Mahasiswa Korban Cuci Otak

Daftar korban dalam kasus dugaan “cuci otak” terhadap mahasiswa di Malang bertambah menjadi 15 orang, yaitu mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, sebanyak 13 orang, dan mahasiswa Universitas Brawijaya (Unibraw) dua orang.

Hal itu diungkapkan Kepala Hubungan Masyarakat (Kahumas) UMM Nasrullah saat menggelar jumpa pers di Gedung Rektorat UMM, Selasa (19/4).
“Sembilan mahasiswa itu yang sudah direkrut dan dicuci otaknya. Namun, ada yang sudah hijrah ke Jakarta untuk dibaiat dan disumpah, ada yang juga belum,”ungkapnya.

Menurut Nasrullah, mereka yang sudah mengaku dicuci otaknya pada tahun 2011  adalah Maya Mazesta, Agung Arief Perdana Putra, Mahathir Rizki (yang masih hilang), Fitri Zakiyah, M Hanif Ramdhani, Wahyu Darmawan, Reviana Efendi, Reza Yuniansyah Nur Ilmi, dan M Recky Kurniawan.

Sebenarnya kasus ini sudah berlangsung sejak 2008 lalu. Ada empat korban pada tahun 2008, yang tiga di antaranya sudah bisa diatasi. “Artinya, sudah dilakukan rehabilitasi, satu orang lagi tidak mau mengaku. Akhirnya dikeluarkan dari UMM. Jadi, total korban dari UMM ada 13 orang,” katanya, tanpa mau mengungkap identitas para korban.

Adapun dua korban lain dari Universitas Brawijaya adalah Desy, mahasiswa angkatan 2010 Jurusan Psikologi, dan Ezra, mahasiswa angkatan 2010. Ketika hendak dikonfirmasi mengenai kasus yang menimpa dua mahasiswanya itu, Rektor Universitas Brawijaya Prof Yogi Sugito tak bisa dihubungi.

Masih menurut Nasrullah, saat ini tujuh korban sudah dikarantina untuk melakukan proses rehabilitasi agar pikirannya kembali normal. “Karena selama direkrut itu, sembilan mahasiswa itu didoktrin tentang pemahaman yang menurut saya sangat sesat. Misalnya, dalam diskusi itu pembahas bahwa warga NKRI itu kafir. Kalau mau Islam, harus ikut Negara Islam, bukan NKRI,” katanya.

Adapun pelaku aksi pencucian otak itu diduga adalah Veriansyah alias Dhani alias Fery alias Dadi, yang mengaku mahasiswa Stikom Yogyakarta; M Muhayyin dari Lampung; dan Najib, yang mengaku mahasiswa dari Bandung.
Kasus ini terbongkar pada Maret 2011 lalu, setelah pihak keluarga Mahatir Rizky mencari Mahatir karena lama tak ada kabar dan tak kuliah. “Sejak itu, UMM mulai mengusut kasus itu, dan akhirnya terbongkar. Pada saat itu juga kami berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan juga intelijen,” katanya.

UMM kini sudah membentuk tim untuk mencari pelakunya. “Namun, hingga kini belum terbongkar. Yang kasus ini bukan hanya menimpa UMM, tapi di berbagai universitas di Jawa Timur bahwa di seluruh Indonesia juga ada kasus serupa,” katanya.

Rumor banyaknya mahasiswa yang diculik dan dicuci otaknya (dibaiat) sebagai pengikut Negara Islam Indonesia (NII) ditanggapi Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan mengaku prihatin.
“Saya belum dengar secara pasti, itu masih sekadar rumor saja dan perlu dibuktikan dulu. Yang pasti, konsep Negara Islam Indonesia (NII) itu sudah tidak cocok lagi dengan konsep NKRI. Kalau bicara NII malah setback atau mundur ke belakang,” tegas Gus Ipul kepada wartawan saat jadi pembicara Diskusi Lintas Agama Jatim (Menanggapi Kekerasan Beragama) di Kampus B Unair Surabaya, Selasa (19/4).

Gus Ipul yang juga salah seorang Ketua PBNU ini meminta kepada ulama dan tokoh-tokoh lintas agama untuk turun mengingatkan umat di bawah. “Jangan sampai masyarakat terpengaruh aliran-aliran keagamaan yang berbeda dengan ciri khas Indonesia. Saat ini, banyak aliran-aliran impor yang masuk dan merusak akidah,” tukasnya.

Peran ulama dan tokoh lintas agama, lanjut dia, sangat penting untuk menyadarkan umatnya yang tidak utuh dalam memahami ajaran Islam. Ini karena banyak masyarakat yang hanya sekadar ikut-ikutan saja dan berpengetahuan dangkal. “Peran mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa jangan sampai ikut-ikutan aliran agama yang tidak jelas. Mereka lebih baik mengawal proses demokratisasi dan kehidupan beragama sesuai cita-cita bangsa Indonesia,” tuturnya.

Dekan FISIP Unair Surabaya Basis Susilo menambahkan, pihaknya belum mendengar kabar mahasiswa Unair juga ada yang menjadi korban pencucian otak oleh NII. “Saya belum dengar. Tapi jika memang ada mahasiswa kami jadi korban, kami akan sadarkan melalui diskusi ilmiah dan seminar-seminar keagamaan,” pungkasnya.

Sumber : Harian Bangsa