Di Balik Bentrokan Ahmadiyah di Tenjowaringin Tasikmalaya

Peristiwa pengrusakan tempat ibadah dan rumah tinggal jemaat Ahmadi di Wanasigra Tenjowaringin Salawu Tasikmalaya pada minggu dinihari (5/5) telah menuai banyak kecaman. Gubernur Jawa Barat dan Presiden SBY tidak menyetujui kekerasan dalam menyelesaikan konflik Umat Islam – Ahmadiyah ini. Presiden SBY 3 hari setelah kejadian mentwit dalam akun Twitternya, @SBYudhoyono, agar semua kelompok baik Ahmadiyah maupun Umat Islam mematuhi kebijakan, saling tahan diri dan cegah kekerasan.
Aparat keamanan sebagai garda terdepan dalam menjaga situasi keamaan perlu didukung oleh semua pihak. Jemaat Ahmadiyah dan umat Islam perlu menahan diri masing-masing untuk tidak melanggar aturan. Kasus bentrokan yang terjadi di desa Tenjowaringin menjadi bukti bahwa umat Islam maupun jemaat Ahmadiyah sama-sama tidak bisa menahan diri. Umat Islam terpicu melakukan penyerangan karena sikap ngotot jemaat Ahmadiyah yang ingin terus menyelenggarakanJalsah Salanah (pertemuan anggota Ahmadiyah tahunan) se-Jawa Barat di Wanasigra yang dihadiri oleh lebih dari 1000 jemaat Ahmadi.
Bila ditelusuri, kasus penyerangan tersebut tidak terjadi secara spontan. Sebelumnya telah ada beberapa peristiwa serupa, namun tidak sampai terjadi penyerangan karena aparat telah terlebih dulu mampu mengatasinya. Penulis mengetahui hal ini karena selama satu tahun terakhir telah beberapa kali berkunjung ke Tenjowaringin mengadakan penelitian perihal pola komunikasi umat Islam dan jemaat Ahmadiyah. Beberapa tokoh Ahmadiyah dan tokoh umat Islam pernah penulis temui dan wawancarai. Penulis pernah ikut shalat Jum’at baik di masjid Ahmadiyah maupun di masjid NU.
Basis Ahmadiyah
Berdasarkan kondisi geografis, desa Tenjowaringin berada di perbatasan antara Tasikmalaya dan Garut. Sejak tahun 1960-an desa ini telah dikenal sebagai basis Ahmadiyah terbesar di Tasikmalaya. Warga Ahmadiyah mencapai 80 persen dari 4.500 warga. Wilayah Desa Tenjowaringin meliputi lima dusun: Wanasigra, Citeguh, Sukasari, Cigunung Tilu dan Ciomas.Wanasigra yang malam minggu kemarin mengalami penyerangan, 95 persen warganya jemaat ahmadiyah. Dusun ini merupakan pusat utama dan pertama penyebaran Ahmadiyah dengan tokohnya Ajengan Ejen, imam masjid al-Fadhal Wanasigra. Di Dusun ini pula cabang pertama Ahmadiyah di Tenjowaringin berdiri. Bahkan Khalifah Ahmadiyah IV Mirza Thahir Ahmad tahun 2000 pernah berkunjung untuk meresmikan SMU Plus al-Wahid milik Ahmadiyah.
Sedangkan di Dusun Citeguh, lokasi dimana masjid Baitus Subhan dirusak massa, jumlah jemaat Ahmadiyah sekitar 75 persen. Hal yang sama juga di Dusun Sukasari dan Cigunung Tilu yang warga Ahmadinya lebih dari setengah jumlah penduduk. Hanya di kampung Ciomas Ahmadiyah menjadi minoritas yaitu sekitar lima persen.
Selama satu tahun meneliti, secara kasat mata penulis tidak melihat ada masalah dalam interaksi sosial masyarakat. Komunikasi di antara warga Ahmadi dan non-Ahmadi tidak menampakkan adanya konflik. Bulan Agustus tahun kemarin penulis menyaksikan riuhnya pertandingan bola voli antar dusun dalam rangka menyambut kemerdekaan RI. Tidak ada gejolak sedikit pun di antara warga. Demikian juga pada Bulan April kemarin, pemilihan kepala desa berlangsung secara damai. Dari empat kandidat, tiga orang berasal dari warga Ahmadi dan satu orang non-Ahmadi. Jumlah suara terbesar diperoleh calon dari jemaat Ahmadi, diikuti calon dari warga non-Ahmadi.
Pertandingan Bola Voli antar Kampung di Desa Tenjowaringin Juli 2012
Bara dalam Sekam
Berbeda dengan komunikasi sosial, komunikasi beragama warga di desa Tenjowaringin cukupriskan. Banyak potensi konflik yang terpendam seperti bara dalam sekam. Polarisasi masjid misalnya. Masjid dipisah antara masjid Ahmadi dan masjid non-ahmadi. Jemaat Ahmadi menolak untuk shalat di masjid bukan Ahmadi, demikian juga sebaliknya. Aturan Ahmadiyah yang melarang bermakmum kepada selain Ahmadi menjadi penyebab terciptanya polarisasi masjid ini. Karena hal itu pula, di dusun tertentu yang hanya ada masjid Ahmadi, warga NU harus pergi ke daerah Garut untuk sekedar menjalankan shalat Jum’at.
Tahun 2009 warga NU mendirikan masjid al-Aqsha di Patrol Dusun Sukasari. Kepala Desa Tenjowaringin yang penganut Ahmadi menolak memberikan rekomendasi sekalipun semua persyaratan terpenuhi. Berkat dukungan MUI desa dan pemerintah kecamatan Salawu, masjid ini bisa berdiri dan mengantongi izin dari dari Kementerian Agama.
Masjid al-Aqsha sering mengadakan kegiatan pengajian dan tabligh akbar dengan mengundang mubaligh dari luar Tenjowaringin. Pesan-pesan dakwah dalam pengajian tersebut terbilang cukup keras, banyak mengungkapkan kesesatan ajaran Ahmadiyah yang membuat merah telinga jemaat. Seringkali ketika berlangsung pengajian, beberapa warga Ahmadi menjauh. Esoknya muncul ketegangan antara jemaat Ahmadi dengan jemaat al-Aqsha.

abc
Pengajian Mingguan Ibu-ibu di Masjid Al-Aqsha
Kegiatan keagamaan cukup aktif dilakukan oleh jemaat Ahmadi di masjid mereka. Tidak ada upaya penutupan secara paksa terhadap masjid Ahmadi di Desa Tenjowaringin seperti yang terjadi daerah-daerah lain. Jemaat cukup tenang untuk melaksakanan ibadah ritual mereka. Dari Masjid Ahmadi seringkali terdengar kumandang azan ketika waktu shalat. Selebihnya suara ceramah atau pengajian hanya terdengar di dalam masjid.
Dalam satu tahun terakhir masjid Ahmadi telah banyak bertambah di desa ini. Beberapadi antara masjid jemaat bahkan ada yang mengalami pemugaran sehingga lebih luas dan lebih indah seperti masjid di Muringis dan Sukasari. Sekalipun aparat kepolisian sudah meminta jemaat untuk menghentikan pembangunan masjid tersebut, mereka terus membangunnya. Kasus pembangunan masjid Ahmadiyah ini pernah memicu penyerangan. Namun kemudian tidak terjadi.
addddd

Suasana Damai Masjid Ahmadi Sukasari setelah Jum’atan
Komunikasi Konteks Rendah
Ketika diamati secara mendalam komunikasi antara jemaat Ahmadi dan non-Ahmadi di Tenjowaringin berlangsung dalam kategori komunikasi konteks rendah. Mengikuti pendapat Edward T. Hall dalam bukunya Beyond Culture (1976) komunikasi dibedakan antara konteks tinggi dan konteks rendah. Komunikasi konteks tinggi berisi pesan yang bersifat implisit, tidak langsung dan tidak terus terang. Sedangkan komunikasikonteks-rendah ditandai dengan pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas dan berterus terang. Dalam komunikasi konteks tinggi ketidaksetujuan seringkali disamarkan sehingga tidak menjadi konflik terbuka. Sebaliknya dalam komunikasi konteks rendah ketidaksetujuan diungkapkan secara vulgar dan berakhir dengan perselisihan.
Warga Ahmadi dan non-Ahmadi Ketika mereka memperdebatkan tentang ajaran Ahmadiyah sering mengungkapkan dengan bahasa langsung (they say what they mean). Mereka saling menuding dengan intonasi bicara yang tinggi. Ketika muncul perbedaan pendapat seringkali berakhir dengan perselisihan karena kedua-duanya mempertahankan pendapat masing-masing (they mean what they way).
Hal ini bisa dilihat dalam peristiwa penyerangan minggu kemarin. Warga Ahmadiyah yang ingin menyelenggarakan kegiatan tahunan organisasinya menolak dengan cara lugas permintaan masyarakat dan aparat kepolisian untuk menghentikan kegiatan mereka. Mereka berargumen itu hak mereka dalam beragama yang dilindungi oleh Undang-Undang. Sebaliknya umat Islamjuga terus menekan jemaat agar tidak melanjutkan aktivitas keagamaan mereka yang dianggap menyebarkan ajaran sesat karena itu melanggar SKB tiga menteri dan Peraturan Gubernur Jawa Barat.
Dengan situasi seperti itu memang sulit untuk menciptakan suasana keamaan yang permanen. Kejadian bentrokan seperti minggu dinihari akan mudah terulang kembali bila tidak ada kesadaran dari seluruh pihak untuk mentaati aturan dan hukum sebagaimana yang disarankan Presiden SBY. Secara pribadi saya tidak berharap konflik seperti ini kembali terulang baik di Tenjowaringin maupun di lokasi lain. Wallahu a’lam
Salam
kanguwes.nazuka.net

sumber :vhttp://www.kompasiana.com/kanguwes/di-balik-bentrokan-ahmadiyah-di-tenjowaringin-tasikmalaya_552b15b5f17e61b06cd623ae