Elo Berfikir, Karena ada Aku ??

Aku berpikir, maka aku ada. Demikian Rene Descartes, seorang filsuf kebangsaan Perancis yang hidup pada abad ke-17 dan juga seorang matematikawan handal (salah satu hasil pemikirannya adalah Sistem Koordinat Cartesian, diambil dari nama lain Descartes yaitu Cartesius).

Rupanya Descartes ingin mengajak kita berpikir dengan ujarannya yang cukup terkenal tersebut, bahwa eksistensi kita adalah pada kemampuan berpikir kita dalam ‘mengadakan’ atau menyadari keberadaan diri kita sendiri.

Rumit ? Tidak juga. Kontemplasi dan introspeksi, adalah jalan menuju ke eksistensi diri ala Descartes. Tetapi celakanya, di masa sekarang ini ternyata kita sulit untuk bisa percaya dengan pikiran kita sendiri, termasuk urusan yang kelihatannya paling sederhana, yaitu eksistensi atas suatu hal.

Bahkan yang jelas-jelas dijamin ada dan eksis namun tanpa wujud pun seakan terpaksa diredifinisi ulang oleh pikiran kita. Contohnya, tayangan-tayangan semacam ‘dunia lain’ di televisi kita. Untuk menjadi ‘ada’ seolah-olah harus dengan wujudnya yang tertangkap oleh mata dan kamera, sehingga tak cukup lagi dengan sekedar ‘ada’ dalam pikiran kita.

Kita pun terjebak untuk semakin manja, seeing is believing, kata orang. Aku melihat, maka aku percaya. Termasuk aku mendengar, membaca, mengecap, mencium, meraba dan seterusnya. Aku percaya, tanpa aku (harus) berpikir !

Ketika kita berbicara tentang media komunikasi komputer, alias komunikasi yang termediasikan oleh teknologi komputer (dan Internet), maka batasan antara ada dan tiada menjadi sangat tipis. Contohnya saja, jika kita berbicara tentang fasilitas Chatting pada Internet.

 Sekarang banyak yang terjebak dalam hal seperti diatas, ambil contoh yang gampang, terkadang pada social network seperti Facebook orang terkadang sering mengganti Nickname nya menjadi yang aneh-aneh. Suatu saat dia memakai real nickname saat dia ingin benar-benar memasuki dunia maya yang disana dia pingin keberadaannya “ ada “. Tapi terkadang dia juga memakai nama palsu / alternative nickname dimana pada saat itu dia pingin memasuki suatu ruang di dunia maya yang dia sendiri tahu keberadaan dia tidak akan diketahui oleh orang lain, dan dia mencoba menjadi sesuatu yang “ beda “

Aku online, maka aku ada. Tetapi, ‘aku’ yang mana ? Karena di dalam sebuah chatroom, eksistensi seseorang terletak pada nickname yang turut bergabung. Masalahnya, nickname boleh ada di dalam ‘ruang maya’, tetapi orangnya bisa saja entah dimana.

Ataupun satu orang pun bisa memiliki beberapa nickname sekaligus, dan bergabung di chatroom yang berbeda. Bahkan satu orang tersebut bisa saja merepresentasikan lebih dari satu nickname dengan jenis kelamin yang berbeda-beda. Toh lawan bicaranya tetap sulit untuk menyadari hal tersebut.

Dunia Maya internet seperti dunia yang abu-abu,semua kabur antara hitam dan putih, jadi jangan sampai “ terjebak “ dalam dunia abu-abu ini karena dunia maya lebih luas dari yang pernah kita pikirkan.

Kalau saya pribadi lebih berusaha mengikuti antara hitam dan putih. Jadi bukan “ Aku berfikir, karena aku ada “ tapi menjadi “ Kalian berfikir, karena ada aku “.

 Lho Kok bisa ?? ya bisalah, makanya jangan serius2 bacanya.