KAMI PEDULI , KAMI MENGABDI (JUMAT, 13 MEI DAN MINGGU, 15 MEI 2011)

Tindakan membantu sesama, seharusnya tidak lagi menjadi sebuah aktifitas luar biasa yang jarang ditemui. Sejak seorang manusia di lahirkan, sejatinya selalu membutuhkan manusia lainnya. Fakta-fakta sosial menyedihkan yang terjadi diantara masyarakat dan ditengah lambannya birokrasi para pemangku kebijakan itulah disinyalir mendorong munculnya kesadaran bersama pada anggota masyarakat lainnya untuk berkomitmen memberdayakan sesama.

Aksi sosial ini biasanya berawal dari inisiatif seorang individu atau komunitas. Bentuknya berupa penggalangan dana, penyaluran bantuan untuk korban bencana, untuk orang terlantar yang tak terjamah negara, atau untuk berlanjutnya pendidikan anak-anak bagi keluarga yang kurang mampu. Bahkan untuk mengatasi problem-problem sosial yang terjadi diantara masyarakat yang memerlukan penanganan segera. Gerakan dari lingkup kecil tetapi memberi manfaat besar dan keikhlasan hati yang total.

Kick Andy menghadirkan seorang anak muda, masih berusia 19 tahun, tetapi melalui blog-nya Indonesian Future Leader (IFL), Muhammad Iman Usman telah memberikan manfaat pada 32 ribu orang, khususnya anak muda. Mengenai prestasinya melalui blog tersebut Iman mendapatkan penghargaan Microsoft Bloggership Termuda 2011. Sejak tahun 2008 hingga 2011 telah banyak penghargaan yang diraih Iman, baik nasional maupun internasional – atas aktifitas dan perhatiannya dalam pemberdayaan pemuda dan pembangunan kapasitas kaum muda Indonesia untuk menjadi pemimpin masa depan yang berkualitas serta memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Selain menjadi Icon Majalah Gatra 2010 dan menjadi Duta Muda ASEAN, mahasiswa berprestasi FISIP Universitas Indonesia kategori Non Akademik tahun 2009 ini juga penerima penghargaan sebagai Global Changemaker oleh British Council 2010. Tak kurang pula Presiden RI pernah memberikan penghargaan sebagai Pemimpin Muda Indonesia 2008. Serta masih banyak deretan penghargaan pada Iman, seperti Global Teen Leader di Amerika Serikat 2011. Ia pun  terpilih sebagai Penasehat Remaja United Nations Populations Fund Indonesia 2009. Hingga saat ini IFL memiliki enam program yang secara rutin di gelar yaitu Children Behind Us, SEAChange, IFL Goes to School, Speak Up! serta pemberian pelatihan-pelatihan serta seminar.

Diusianya yang telah mengancik 75 tahun, tak menjadikan Ibu Fatma hidup tenang-tenang dan hanya menimang cucu dirumah. Hobi masaknya dia manfaatkan untuk membuat gerakan sosial bersama rekan-rekannya. Dengan semboyan “Siapa Lapar, Kasih Makan” pada setiap aksi sosialnya, Ibu Fatma selalu membawa nasi bungkus kemana-mana melalui organisasi non formal yang mereka sebut La Tahzan (Jangan Bersedih). Gerakan yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga ini bergerak spontan membantu orang-orang yang membutuhkan uluran tangan. Aktifitasnya terus berkembang sejak tahun 2004 mereka canangkan hingga saat ini. Dari nasi bungkus hingga santunan pada 26 keluarga sakit lumpuh layu juga pendidikan anak.

Dari dunia bermusik One Dollar For Music (ODFM) menaruh perhatian pada kemajuan dan tumbuh kembang kreativitas anak muda. Bakat musik yang dimiliki pada anak-anak muda di Bali, belum di dukung dengan sikap profesionalisme dalam bermusik. Organisasi non profit yang digerakkan oleh mantan pengajar Rotterdam University of Music dari Belanda, Raoul Wijffels ini – merangkul anak-anak muda berbakat yang tertarik memperdalam kemampuan bermusiknya. Idenya adalah walau hanya dengan satu dollar tetapi dapat membantu kegiatan bermusik. Raoul membayangkan, seandainya setiap orang di dunia yang berjumlah hampir 6 milyar menjadi donaturnya, maka uang yang terkumpul lebih dari cukup untuk mengembangkan bakat musik anak-anak muda tersebut. Filosofi ODFM adalah ingin berinvestasi pada kreativitas anak-anak muda yang memiliki bakat musik tersebut dapat berkesinambungan. Hasilnya beberapa band anak muda hasil binaan mereka meraih prestasi dalam beberapa event musik. ODFM menggunakan media musik dan anak muda sebagai agen perubahan. Tujuan setelah diberikan pelatihan dan memberikan kapasitas, maka anak muda tersebut diharapkan menjadi sadar bahwa mereka sebenarnya kreatif. Walaupun nantinya mereka tidak memilih profesi sebagai musisi, tetapi kreatifitas adalah hal utama yang perlu terus diasah.

Dari gerakan menyumbang satu Dollar ke gerakan menyumbang uang koin. Coin For A Chance. Gerakan yang dibesarkan di dunia maya pada Desember 2008 kini menjelma. Sebuah koin yang bisa menghasilkan perubahan. Duo sahabat penggagasnya adalah Nia K. Sadjarwo dan Hanny Kusumawati. Berawal dari kegemaran keduanya mengumpulkan uang receh koin yang ditampung di dalam toples kaca. Lewat blog dan jejaring sosial seperti facebook dan twitter, kedua gadis cantik ini mengajak orang untuk menyisihkan koin recehnya yang seringkali di telantarkan. Caranya, dengan menyisihkan koin kembalian ke wadah-wadah yang terdapat di sejumlah tempat umum, seperti kafe dan rumah makan. Setiap bulan, koin yang terkumpul dihitung dan dilaporkan secara terbuka dalam sebuah moment bagi mereka yang berpartisipasi, Coin Collecting Day. Selanjutnya, koin-koin tersebut digunakan untuk membantu anak-anak yang terancam putus sekolah. Hingga saat ini sudah ada 7 anak yang telah diberi tunjangan pendidikan dari recehan yang mereka kumpulkan. Tertarik? Audience Kick Andy di dalam studio pun diberi kesempatan untuk menyisihakan koin-koin mereka, dan berapa hasilnya?  Selamat menyaksikan.

Sumber : Kick Andy Show