Ketika Cita-cita Berbeda dengan Orangtua, Apa yang Harus Dilakukan?

Di pertengahan tahun, tepatnya sejak di awal tahun, pembukaan pendaftaran mahasiswa baru di universitas manapun pasti dipenuhi sesak oleh calon mahasiswa. Mereka calon-calon sarjana baru yang akan menempuh pendidikan tinggi dari beragam daerah. Tepatnya, para anak remaja SMA kelas 3 yang sedang sibuk-sibuknya mengurusi try out dan persiapan menjelang ujian nasional. Walaupun di tahun 2015 ujian nasional sudah tidak sesakral di tahun-tahun sebelumnya, namun tetap saja membuat panik anak didik di SMA. Begitu juga dengan penerimaan mahasiswa baru, walaupun semakin banyak universitas yang membuka lowongan pendaftaran untuk anak didik barunya, tetap saja calon mahasiswa ini ketar-ketir mencari kursi agar tidak ketinggalan dengan rekan-rekan seperjuangannya.

Masalah lainnya bukan hanya pada saat kita mencari tempat di universitas. Bukan cuma ingin kuliah di universitas negeri atau swasta. Banyak anak didik yang sejatinya tidak paham akan tujuannya kuliah itu sendiri. Tidak sedikit dari mereka akhirnya merasa tersesat saat sudah menempuh kuliah dan ingin memutar haluan dan kembali dari awal dengan memilih kuliah di jurusan yang lain. Tidak mengherankan jika anak-anak ini telah menempuh pendidikan di universitas selama 2 tahun, tapi merasa hampa, tidak berdaya, tidak bersemangat, dan juga tidak bergairah melanjutkan kuliah. Hingga kuliah hanya diisi dengan kuliah-pulang atau kuliah terbengkalai karena asyiknya kegiatan yang tidak berhubungan dengan kuliah sama sekali seperti hobi, organisasi, dan part time.

cita-citamu

Apakah itu dikarenakan cita-cita berbeda dengan orangtua? Apakah karena inginnya orangtua, sang anak harus masuk jurusan seperti bapak dan ibunya dulu menempuh kuliah? Atau karena orangtuanya yang merasa paling tahu dan paling benar salah satu jurusan kuliah yang dipilihkannya lebih unggul dari jurusan lain? Jawabannya bisa banyak. Bahkan terlalu rumit untuk dicari jawabannya karena tidak semua orangtua mau jujur terhadap campur tangannya pada cita-cita anak.

Bagi anak, salah satunya jalan adalah jujur pada dirinya sendiri, apakah benar jurusan kuliah itu memang diinginkannya, atau diinginkan orangtuanya. Jika ternyata suara hati dan pikiran merasakan berbeda, perlu segera dibicarakan pada orangtua sebelum berlanjut nanti menjadi masalah dikemudian hari. Kuliah cukup mahal biayanya, dan salah langkah diawal cukup merepotkan.

Kecuali, sang anak mau untuk tetap belajar di jurusan kuliah yang ditetapkan oleh orangtuanya, walau berbeda dengan suara hatinya, dan tetap meluluskan kuliah itu hingga tuntas, barulah selepas kuliah dirinya mencari jati diri kembali, mengejar cita-cita yang diinginkannya yang jelas berbeda dari orangtuanya. Hal ini bisa dilakukan. Namun, jika cita-cita sang anak cukup krusial, seperti dirinya telah meluluskan kuliah teknik tapi sejatinya ingin jadi dokter. Itu sungguh mustahil kalau tidak sejak awal diperbaiki. Jadi bagaimana win-win solution yang layak diperjuangkan?

Setiap orang punya setidaknya lebih dari satu cita-cita. Cobalah bagi kamu, untuk melihat ke dalam diri sendiri, merenung dengan jujur. Buat daftar di selembar kertas di buku atau di ms.word komputermu, tentang apa saja yang ingin kamu lakukan di usia 20-30 tahun dan hal apa saja yang ingin kamu raih di usia 20-30 tahun. Cobalah membuat daftar ini berkelanjutan berhari-hari, menambah atau mengurangi yang kamu rasa perlu. Tidak perlu tergesa-gesa, tapi perlu untuk segera dilakukan. Agar sebelum masuk kuliah, kamu punya tujuan pembelajaranmu di kuliah itu untuk apa.

Sehinggga cita-cita berbeda dengan orangtua kini bukanlah jadi penghalangmu meraih cita-citamu. Jadi jangan takut dan ragu untuk tetap berbakti pada orangtua, dan mendiskusikan maumu. Jika menemui jalan buntu, itulah cara yang masih dirasa relevan untuk kamu lakukan daripada harus berdebat dan marah pada orangtua. Karena satu hal yang pasti juga, restu orangtua pada anaknya dalam menempuh cita-cita itu mempengaruhi kesuksesan anaknya. Semoga bermanfaat ya.