Kota Tua Neira

Kepulauan Banda yang berada di Maluku terdiri dari sebelas pulau pada jamannya merupakan sumber utama pala danfuli sehingga konon tujuan ekspedisi Columbus adalah untuk mencari kepulauan Banda, bangsaEropa yang pertama kali menginjakan kaki di pulau pulau ini adalah Portugis pada tahun 1512,namun sebelumnya para pedagang Arab dan cina telah terlebih dahulu tiba di sini.

Seabad kemudian Banda menjadi tempat manuver strategis dan pertempuran sengit perusahaanperdagangan Inggris dan Belanda untuk mendapatkan Kontrol monopoli perdagangan pala dan rempahrempah.

Puncaknya pada tahun 1621 VOC di bawah komando Gubernur Jendral JP Coen melakukan pembantaianpara orang orang berpengaruh di Banda dan merebut kepulauan Banda sehingga memaksa lebih dari90% orang Banda melarikan diri dari Banda.

Siapa menyangka pada masa lalu Banda merupakan sebuah Ibu Kota Propinsi, kini kita bisa menyaksikan bangunan bangunan sisa kejayaan dan penderitaan Banda pada masa lalu.

Hari terakhir setelah mendaki puncak tertinggi di Banda kami memyempatkan berjalan jalan dikota tua Neira mengunjugi bangunan bangunan tua diantaranya Benteng Belgica yang dibangun padatahun 1617, berbentuk persegi lima dimasing masing sudutnya terdapat menara dan ditengahtengah benteng terdapat pintu terowongan sepanjang 126 meter menuju benteng Nasau yang beradadi tepi pantai, Benteng Belgica ini terawat dengan baik.

Kemudian Istana Mini yang merupakan tempat kediaman Gubernur jendral VOC, istana ini bentuknyamirip dengan Istana Bogor sehingga masyarakat menyebutnya istana mini, tahun pembuatanya tidakdiketahui.

Selain Benteng Belgica disini juga terdapat Benteng Nasua yang dibangun tahun 1609 diatasreruntuhan benteng Portugis, didekat Benteng Nassau terdapat Monumen Perigi Rante untukmengenang peristiwa pembantaian Orang Kaya Banda oleh Belanda.

Gereja Tua yang dibangun pada tanggal 20 April 1873 diatas pusara 30 orang serdadu Belandayang gugur dalam perang menaklukan Banda, jadi pada lantai gereja terdapat batu nisan paraserdadu ini lengkap dengan identitasnya.

Di Kota Tua Neira ini juga terdapat bangunan bangunan yang dipakai sebagai rumah pengasinganBung Hatta, Bung Sjahrir, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Mr. Iwa Kusuma Sumantri.

Banda tidak saja meninggalkan kenangan masa lalu kaum kolonial namun juga arsitektur bergayaEropa, berjalan jalan di kota Tua Neira seolah kita sedang berjalan jalan dalam romantismemasa lalu, sayang esok kami harus meninggalkan Banda dalam hati saya berjanji suatu sat pastikembali lagi ke Banda, kembali kedalam romantisme pelukan Banda yang eksotis.

Lintasberita & Tutorialblogging