Pantai Gading, Kiblat Baru Sepakbola Afrika

pantaigadingi

Abidjan – Kepindahan Wilfried Bony ke Manchester City dengan harga selangit kian menunjukkan Pantai Gading kini adalah raksasa baru di Benua Afrika. Pantai Gading tak pernah henti menelurkan bakat-bakat baru untuk diekspor ke Eropa.Apa yang ditulis di atas bukan sekadar pemanis saja, mengingat dulu orang hanya mengenal Kamerun, Nigeria, Afrika Selatan, Senegal, atau Ghana sebagai tim-tim top dari Benua Hitam itu.

Terutama Nigeria ketika mereka berhasil merebut medali emas di Olimpiade 1994 dengan para pemain seperti Daniel Amokachi, Nwankwo Kanu, Tijani Babangida, atau Sunday Oliseh.

Atau kita pernah tahu bagaimana Senegal pernah mengejutkan dunia ketika berhasil lolos dari fase grup di penampilan perdananya di Piala Dunia 2002. Saat itu El Hadji Diouf dan Papa Boba Dioup menginspirasikan kemenangan atas juara bertahan Prancis di pertandingan pertama.

Lalu ada lagi Ghana yang dimotori oleh Michael Essien, Asamoah Gyan, dan Sulley Muntari saat melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2006.

Namun, kini Afrika punya jagoan baru yakni Pantai Gading yang namanya baru melejit sekitar satu dekade terakhir ini. Adalah pemain bernama Didier Drogba yang mengharumkan nama Pantai Gading di sepakbola dunia.

Sebelum Drogba dibeli Chelsea di musim panas 2004, mungkin orang tak banyak yang tahu negara di belahan Barat Afrika tersebut. Tapi Drogba kemudian membuka pintu selebar-lebarnya untuk pemain Pantai Gading lainnya mencari nafkah di Eropa.

Namun, bukan Drogba saja yang berjasa membesarkan nama Pantai Gading melainkan ada juga akademi sepakbola milik klub lokal, ASEC Mimosifcom, yang jadi “kawah candradimuka” untuk para calon bintang Pantai Gading.

ASEC merupakan salah satu klub top di sana dan punya akademi bernama de Sol Beni. Dari akademi yang didirikan tahun 1994 itu, banyak lahir para bintang Pantai Gading saat ini. Selain Drogba, juga ada Toure Bersaudara, Gervinho, Didier Zokora, Boubacar Barry, Emmanuel Eboue, Aruna Dindane, Kalou Bersaudara, dan lainnya.

Bahhkan lulusan ASEC saat ini sudah ada yang siap jadi bintang baru di Eropa, yakni Gohi Bi Cyriac yang bermain di Anderlecht dan Ismael Diomande di Saint-Ettiene.

Di kompleks latihan milik ASEC yang terletak di timur ibukot Abidjan, ada 40 pesepakbola muda berusia 13 hingga 18 tahun yang berlatih bareng penggawa tim nasional dan juga klub.

Meski Pantai Gading termasuk salah satu negara miskin di Afrika, namun ASEC punya fasilitas lengkap layaknya klub-klub Eropa seperti tiga lapangan bola, dua kolam renang, lapangan tenis, lapangan basket, lapangan handball, gym, sekolah, dan ruang medis.

Selama lima hari dalam seminggu mulai pukul 05.45 hingga 22.00 malam, para pemain akademi itu dibekali latihan sepakbola, sesi kebugaran, sekolah, belajar, dan kemudian beristirahat.

Para calon bintang itu pun dibekali kemampuan berbahasa Inggris dan juga Spanyol sebagai bekal mereka untuk bermain di luar negeri nantinya. Sebab banyak juga pemain Pantai Gading yang tak merumput di Liga Prancis (yang merupakan bahasa ibu mereka), setelah lulus dari akademi sepakbola klub-klub lokal.

“Ini adalah pusat olahraga untuk pesepakbola masa depan kami. Tapi pendidikan juga harus diutamakan. Karena hanya dengan pendidikan lah bakal lahir pemain top,” ujar kepala pendidikan akademi, Adou Kouakou, seperti dikutip BBC.

Setiap tahunnya para pemandu bakat dari ASEC mengitari kota-kota terdekat untuk mencari bibit-bibit baru yang disebut mencapai 7.000 anak-anak per pekannya. Wajar jika kemudian banyak pemain Pantai Gading yang kemudian menjadi top di Eropa.

ASEC pun juga berafiliasi dengan klub divisi dua Belgia, Beveren, yang kemudian jadi pintu masuk untuk para pesepakbola Pantai Gading sebelum mereka bermain di klub-klub besar Eropa.

Yaya Toure, Kolo Toure, Eboue, dan Gervinho adalah sederet nama yang memulai kariernya di Eropa bersama Beveren, sebelum kini terkenal di seantero Eropa.

“Rahasianya? Tidak ada, cuma harus kerja keras,” ujar salah satu pemain akademi ASEC, Issa Traore, ketika diwawancarai oleh reporter BBC, Tamasin Ford, Juni lalu berkaitan dengan keikusertaan Pantai Gading di Piala Dunia 2014.

Traore dan teman-temannya pun bermimpi suatu saat mereka bisa jadi pemain seperti Drogba atau Yaya Toure. Meski demikian jalan Traore menuju sana masih panjang dan diperlukan kerja keras serta kerendahan hati untuk meraihnya.

Sama seperti plakat yang tergantung di ruang komputer yang ada di akademi tersebut. “Reste Humble, Si Tu Veux Devenir Grand, Tetaplah rendah hati jika Anda ingin menjadi yang terhebat.”

“Itulah rahasia kami,” tutur Traore sambil menutup wawancara dengan Ford dan berlalu menuju kamar mandi.

Tak salah memang jika Pantai Gading disebut kiblat baru sepakbola Afrika, mengingat ada tiga pemain mereka di urutan empat besar pesepakbola ‘Benua Hitam’ termahal di dunia, dengan Bony ada di tempat teratas usai dibeli Manchester City dengan harga 30 juta poundsterling.

(mrp/cas)

Sumber : http://sport.detik.com/sepakbola/read/2015/01/15/120047/2804093/73/pantai-gading-kiblat-baru-sepakbola-afrika