Pendaki Strata Sosial di Dunia Maya

Seiring dengan derasnya globalisasi, maka otomatis struktur masyarakat tradisional mulai bergeser. Di masa lalu, ketika feodalisme masih kuat, seorang buruh akanlah tetap menjadi buruh sepanjang hidupnya. Tidak mungkin dia bisa menjadi seorang bangsawan.

Namun, era globalisasi telah merubuhkan tembok strata sosial. Mobilitas antar strata sosial menjadi sangat tinggi, dan memungkinkan siapapun menjadi populer dan hartawan, tanpa harus menjadi bangsawan. Inilah yang disebut sebagai Pendaki Strata Sosial (Social Climber).

Kemunculan Social Media, seperti Twitter dan YouTube, telah menjadi akselerator bagi kemunculan Pendaki Strata Sosial tersebut.

Nah, bagaimanakah sepak terjang para pendaki tersebut? Mari kita simak.

Para Pendaki

Akhir-akhir ini, publik kita dikejutkan oleh kemunculan orang-orang yang mendadak top. Mereka seakan-akan muncul dari ‘ruang kosong’, dan langsung populer tanpa kita duga.

Popularitas mereka disokong sepenuhnya oleh dunia maya, dalam hal ini oleh YouTube. Contohnya adalah Briptu Norman, Udin, dan Sinta-Jojo. Udin menjadi terkenal dan diundang oleh televisi karena lagunya ‘Udin Sedunia’. Sementara, Sinta-Jojo pun menjadi populer karena lipsync lagu ‘Keong Racun’.

Lalu, contoh yang sangat menyentuh adalah Briptu Norman. Sang polisi ini menjadi populer, karena joged berlatar belakang lagu India yang dia lakukan.

Mereka semua telah menjadi selebriti baru. Satu hal yang menarik, mereka muncul karena sifat dunia maya yang cenderung memandang semua orang itu selevel, tanpa pandang perbedaan kelas.

Memiliki modal besar pun bukan sesuatu yang harus mereka lakukan, karena terbukti dengan bekal smartphone dan koneksi internet, mereka bisa menjadi selebriti. Smartphone dan akses internet sudah bukan barang mewah lagi sekarang, dan seluruh Indonesia sudah diliputi olehnya.

Mereka juga tidak memiliki koneksi ke industri hiburan, dan baru setelah populer, industri tersebut yang mendekati mereka.

Adapun, Twitter sebagai medium bagi para Pendaki Strata Sosial pun juga mulai dimanfaatkan oleh mereka. Di Twitter pun ada, seperti orang yang awalnya tak dikenal, mendadak top di Twitter dengan follower bejibun.

Ini fenomena yang sangat menarik, dan di satu dimensi sangat mirip kasusnya dengan Briptu Norman cs, karena para pendaki strata sosial di Twitter ini tidak memiliki modal besar untuk menjadi populer, dan cukup mengandalkan smartphone dan koneksi internet.

5 Tipe Pendaki Sosial di Twitter

Nah, bagaimana mereka bisa jadi Pendaki Strata Sosial di twitter?

Beginilah pra-kondisi yang memungkinkan mereka memperoleh popularitas tersebut:

1. Tweet yang memang menarik, lucu, atau berguna bagi banyak orang. Bagi Tweet yang seperti ini, kehadiran mereka akan sangat mencerahkan dan memberikan informasi tambahan.

Contoh saja, mereka yang sering memberikan kuliah Twit (kultwit). Menyusun suatu kuliah dalam 140 huruf adalah sangat sukar, sehingga Tweet seperti ini sudah selayaknya diapresiasi.

Dalam menyusun joke atau lawakan dalam 140 huruf pun seseorang memerlukan kreativitas yang sangat tinggi, ini perlu diapresiasi juga.

2. Mendompleng public figure. Jika kita menggali jauh ke masa lalu, Kaisar Romawi pun melakukan hal ini. Octavianus, anak tiri Julius Caesar, awalnya selalu mendompleng ketenaran ayah tirinya. Namun ketika saatnya tiba, akhirnya dia menjadi Kaisar juga, dengan nama Agustus Caesar.

Pendomplengan Octavianus ini sukses dilakukan, karena dia bisa memanfaatkan pergolakan politik di Kekaisaran Romawi, demi keuntungannya. Hal ini juga terjadi di Twitterland.

3. Pencitraan via tweet yang mampu memanfaatkan isu terkini. Pencitraan ini bisa saja memanfaatkan isu politik, ekonomi, budaya, sains-tek, maupun hukum yang terbaru.

Karena kemampuan mereka mengikuti isu tersebut, dan mengolahnya sesuai pendapat mereka sendiri, maka follower pun mendatangi mereka.

4. Kemampuan menyerukan kampanye atau ajakan sosial. Jika kampanye sosial ini sangat menyentuh, maka akan mampu menggerakkan massa untuk melakukan suatu gerakan sosial.

5. Faktor lain: keberuntungan atau lainnya. Keberuntungan atau hoki jelas tidak bisa dilepaskan dari perhitungan. Keberuntungan akan datang, ketika para Pendaki hadir di saat yang tepat, dan memang sudah dinantikan.

Siapakah mereka? Nah silakan tebak dan klasifikasikan sendiri!

Menjadi Populer Bukanlah Suatu ‘Dosa’

Menurut Friedrich Nietzsche, Filusuf Jerman, manusia yang ideal adalah ‘manusia atas'( Inggris: Overman. Jerman: Uebermensch).

Apa itu ‘manusia atas’? Ialah manusia unggul, yang memiliki trait (sifat-sifat) superior dan berbeda dengan kebanyakan massa.

Nietzsche memberi contoh Napoleon Bonaparte, yang sangat dia kagumi. Kenapa demikian? Karena Napoleon Bonaparte adalah Pendaki Strata Sosial versi klasik, dia anak petani miskin di Corsica, yang akhirnya menjadi Kaisar Prancis dan Penguasa Eropa.

Sifat kepemimpinan, kecerdasan, keuletan, dan visioner seorang Napoleon itulah, yang menurut Nietzsche adalah trait dari seorang ‘manusia atas’.

Bertolak dari pendapat Nietzsche ini, maka saya tidak melihat ada yang salah dari fenomena Pendaki Strata Sosial. Sah-sah saja itu dilakukan, dan menginginkan popularitas, selama dilakukan secara halal, bukanlah sesuatu yang salah.

Jika Nietzche masih hidup, saya yakin diapun akan mendukung keberadaan para Pendaki tersebut, yang mengikuti jejak langkah Bonaparte, sang Kaisar Perancis.

Namun perlu diperhatikan juga, kultur kita (di Indonesia) cenderung sangat berbeda dengan apa yang digambarkan Nietzche. Wajar jika seorang Jenderal seperti Bonaparte dipuji-puji oleh dia, karena Nietzche lahir di Jerman, yang saat itu dikuasai oleh para Jenderal Prusia yang militeris.

Ada kecenderungan, kultur asia secara umum cenderung tidak suka dengan hasrat akan popularitas atau keinginan menjadi selebritis, sebab hal ini bertentangan dengan sifat rendah hati yang sangat diutamakan di sini.

Barangkali perlu diperhatikan, agar sifat rendah hati tetap dipegang teguh. Banyak contoh selebriti yang tetap rendah hati, dan mereka bisa jadi panutan. Sebab jika hal itu tidak dilakukan, maka akan jadi bumerang bagi para Pendaki tersebut.

Oleh : Arli Aditya Parikesit

Lintasberita & Tutorialblogging