Meretas 150 Tahun Jejak Raden Saleh di Jerman

Sebuah lukisan akrilik berjudul Express bertutur tentang seorang pria terlihat tak nyaman di atas jeep merupakan salah satu dari 15 lukisan yang membetot perhatian seratusan pengunjung Istana Maxen, sekitar 20 km dari pusat kota Dresden, Jerman.

Pria dalam lukisan tersebut adalah personifikasi Raden Saleh atau lengkapnya Raden Saleh Sjarif Boestaman, seorang pionir seni lukis Indonesia moderen berdarah priyayi Jawa dan kegalauannya berjalan sendirian di tengah bingkai pikiran orientalisme, ketegangan kolonialisme, dan beban mental inlander, yang menjangkiti warga pribumi terjajah pada saat itu.

Alur itulah ​yang berusaha ditangkap oleh Heri Dono, pelukis kontemporer Indonesia beraliran post expressionims dan cubism, dalam pameran tunggal lukisan bertajuk Homage to Raden Saleh bertempat di Istana Maxen, Dresden, tempat Raden Saleh pernah tinggal dan menghasilkan karya-karya besarnya di Jerman 150 tahun lalu.

Sebanyak 15 lukisan karya Heri Dono mengenai Raden Saleh dan pemikiran serta pengalamannya digelar dari 22/5 hingga 11/9/2011 dalam rangka memperingati 200 tahun lahirnya Raden Saleh (1811-1880). Pameran ini diselenggarakan oleh Heimat Museum atau museum warisan budaya Maxen dengan didukung KBRI Berlin.

“Istana Maxen, Dresden, dipilih sebagai tempat penyelenggaraan pameran karena disanalah tempat Raden Saleh pernah tinggal selama beberapa tahun,” demikian Sekretaris III KBRI Berlin Purno Widodo kepada detikcom hari ini.

Di istana itulah Raden Saleh bergaul dengan berbagai seniman, pelukis, penyair, dan musisi elit kala itu, seperti Ludwig Tieck, Robert dan Clara Schumann, Karl Gutzkow, pendongeng legendaris dunia Hans Christian Andersen, dan Ottilie von Goethe, sehingga banyak bangsawan kerap mengunjungi tempat ini untuk menyaksikan karya seni mereka. Dari sini pula Raden Saleh berkenalan dengan Raja Sachsen Coburg dan Gotha Ernst II serta istrinya, Alexandrine.

Tak pelak, jejak Raden Saleh sebagai pelukis masyhur dari tanah Jawa yang dihormati sangat jelas terlihat di Dresden. Bagi Raden Saleh, Dresden sangat berperan dalam memberinya inspirasi luarbiasa sehingga dirinya berhasil menyelesaikan lukisan-lukisannya dengan cepat dan banyak. Perpaduan antara Dresden sebagai kota seni budaya dan keindahan panoramanya telah membuatnya semakin kreatif dan betah tinggal beberapa tahun lamanya.

Interaksi Raden Saleh dengan berbagai tokoh terkemuka Jerman, Belanda, Perancis, Denmark bahkan Aljazair pada saat itu dengan tetap membawa identitasnya sebagai warga pribumi yang dipandang eksotis dan sejajar dengan bangsa lain menjadikan Raden Saleh sebagai representasi Indonesia di zamannya.

Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman Dr. Eddy Pratomo dalam hal ini menyatakan bahwa Raden Saleh merupakan Duta Indonesia pertama untuk Jerman. “Raden Saleh telah meninggalkan warisan berupa ikatan persahabatan dan membangun kerjasama konstruktif bagi dua bangsa yang terpaut jarak dan budaya,” ujar Dubes.

Menurut Dubes, Raden Saleh dalam hal ini telah meletakkan fondasi hubungan dua bangsa dan juga perdamaian dunia dengan tulisan Jawa yang artinya “Sembahlah Tuhanmu dan Cintai Sesama Manusia” di Masjid Kubah Biru yang dibangunnya di atas tebing, tak jauh dari Istana Maxen. Masjid Kubah Biru tersebut saat ini menjadi salah satu ikon kota Maxen dan juga daya tarik wisata disana.

Acara pembukaan pameran lukisan tunggal ini dihadiri oleh berbagai tokoh politik, seni dan budaya Jerman serta masyarakat pecinta seni di Dresden dan sekitarnya. Selain sambutan dari Pemilik Istana Maxen Herr Peter Flache, anggota parlemen Jerman dari Dresden Herr Klaus Breming serta Dubes RI Dr. Eddy Pratomo, juga ditampilkan Tari Legong Keraton Bali dan Topeng Kelono Jawa dari KBRI Berlin.

Berbagai brosur dan buku pariwisata Indonesia juga disediakan oleh KBRI Berlin di tempat penyelenggaraan untuk semakin meningkatkan pengetahuan masyarakat Dresden mengenai Indonesia, negeri Raden Saleh berasal.

Lintasberita from Detik