Revolusi PSSI dengan People Power

Revolusi PSSI itulah berita yang sering saya tonton di acara Televisi belakangan ini, setiap stasiun TV menayangkan berita tentang gerakan revolusi terhadap PSSI. Revolusi ini tidak terjadi begitu saja, tentu saja ada beberapa penyebab yang membuat masyarakat Indonesia serentak melalukan demo terhadap PSSI di beberapa daerah, seperti di Medan, Semarang, Palu, Makassar, Surabaya, Malang, dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Puncak kekesalan pecinta bola Indonesia ini merupakan akibat dari sikap para pengurus PSSI yang di ketuai oleh Nurdin Halid yang dengan semena-mena merubah beberapa peraturan dari FIFA tentang tata cara pemilihan Ketua Umum Organisasi Sepakbola hanya demi melanggengkan kepentingan pribadinya sendiri.

Ribuan suporter yang mengatas namakan gerakan Revolusi Merah Putih berhasil menyegel dan menutup kantor PSSI. Hal ini dilakukan Untuk memberi tekanan makin besar buat PSSI. Dan mereka akan melakukannya sampai Nurdin Halid turun dari jabatannya sebagai ketua umum PSSI.

“Kita mengupayakan agar bagaimanapun caranya, Nurdin Halid dan kroni-kroninya harus turun. Hari ini ada tiga konsentrasi massa. Tadi Suporter Revolusi Merah Putih ke KPK, juga akan ada pula di Bundaran HI, dan Senayan. Namun konsentrasi paling besar ada di sini,” ujar Nanang Maryadi dari Suporter Revolusi Merah Putih saat ditemui di depan markas PSSI.

Demo yang terdiri dari sekitar 1.500 suporter yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia berpawai dari pintu X Gelora Bung Karno pada pukul 12.00 WIB, Rabu (23/2/2011).

Intinya orasi para suporter ini adalah meminta Nurdin untuk segera mundur dari kursinya, merevolusi PSSI serta meluluskan Arifin Panigoro serta George Toisutta sebagai calon Ketua Umum.

Disisi lain  Kelompok Save Our Soccer meminta Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK menetapkan Nurdin Halid sebagai tersangka kasus korupsi. Dengan ditetapkannya sebagai tersangka, pencalonan Nurdin sebagai calon ketua umum PSSI gugur. Dari catatan Save Our Soccer, Nurdin diduga terlibat dua kasus korupsi. Pertama, ketua PSSI itu diduga menerima Rp 500 juta dalam kasus pemilihan Miranda Swaray Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Kedua, Nurdin diduga terlibat dalam kasus Persatuan Sepakbola Samarinda. Ia diduga menerima Rp 100 juta dari Aidil Fitrio, mantan Manajer Persisam Samarinda yang terbukti mengkorupsi dana APBN untuk klub tersebut senilai Rp 1,7 miliar.

Sekali lagi mungkin kita akan menyaksikan bahwa kekuasaan sekuat apapun tidak bisa mengalahkan kekuatan masyarakat atau People Power hal ini telah terbukti ketika di Indonesia terjadi Reformasi tahun 1998 dimana Presiden Suharto yang telah berkuasa selama 32 tahun akhirnya mengundurkan diri.

Ditulis oleh Lintasberita