Sebuah Cerita Tentang 3 Kisah Untuk Sebuah Potret

Menarik sekali membaca salah satu tulisan di Kompas Fiksi yang menggambarkan betapa jauhnya perbedaan tingkat sosial dalam kehidupan sehari-hari disebuah Kota Metropolitan seperti Jakarta. Saya yakin dari cerita ini ada hikmah yang bisa kita ambil. Memang kehidupan bagai sebuah roda yang harus selalu terus berputar, tinggal kita sendiri yang harus menentukan apakah kita yang dapat mengendalikan roda tersebut atau malah kita sendiri yang terbawa perputaran roda tersebut.

Ini sebuah cerita tentang tiga kisah di tiga tempat berbeda dalam satu kota untuk satu waktu yang sama.

Jakarta,24 juni 2010, 14:30WIB

Lamoda Cafe,Plaza Indonesia

Unchaind melody dimainkan begitu indah oleh seorang pianis yang menghibur tamu-tamu yang bersantai ria di salah satu café bergengsi di salah satu tempat shopping centre kelas atas Jakarta,para tamu yang rata rata wanita usia diatas kepala tiga sibuk dalam percakapan yang menyenangkan diantara mereka,ada beberapa sibuk memainkan blackberry mereka di tangan,namun sekali-kali tertawa cekikikan,tenggelam dalam dunia maya mereka.

“Lin,eh loe udah nonton Sex And The City belom?”sambil membalas BBM yang masuk dari blackberrynya,Cathy bertanya pada Lina,salah satu best friendnya,teman satu group arisan dan juga teman satu alumni ketika mereka mengambil kuliah S2 di New Soulth Wales University,Sydney.

“gue kemarin nonton di Pasific Place ama hubby gue,eh loe tahu nggak Lin,si Sarah di film itu sekarang udah terasa banget tuanya,haha..tapi,gaun warna peraknya di situ anggun banget”sambung Cathy.

“oh,gaun yang sama yang di gambar cover itu ya,iya emang ok banget tuh gaun,eh loe tahu design siapa itu,maksud gue merknya”balas Lina.

“kata teman gue,si Diana,katanya Emilio Pucci punya rancangan,Diana kan salah satu columnis di majalah High End kan,yang gitu-gitu udah so pasti dia lebih up to date dibanding gue”balas Widya yang juga teman satu grup mereka.”by the way,gue lagi senang nih,haha,kemarin malam laki gue telp gue,dia kan emang lagi di Paris,katanya dia ada beliin satu sandal high heel jimmy choo special edition,yang itu Cate(panggilan buat Cathy)yang pernah gue kasih loe liat di bb gue dua minggu lalu,masih ingat gak,Yang gue bilang lagi dibahas di majalah The Vogue edisi terbaru itu loh!”

“masaaaaaaaaaa”teriak Lina yang seakan terkejut dengan apa yang baru dia dengarkan barusan.”si Sarah di sex and the city aja kalah ama loe,Wid”

Sambil tertawa puas karena telah membuat teman-temannya kaget dan membuat dirinya seakan akan berada dalam kondisi high confidence,Widya menambahkan lagi,”dan yang lebih kaget lagi,tahu nggak harganya berapa,laki gue harus rogoh koceknya lima ribu euro buat dapatin tuh sandal”

“eitttt,tunggu tunggu,satu euro berapa rupiah ya?”Tanya cathy.”kitar sepuluh ribu rupiah gitulah”balas Widya yang tampak bangga dengan berhasil memamerkan prestige dia ke teman-temannya.

“siettttttt” celutuk si Cathy tiba-tiba”sandal loe harganya lima puluh juta rupiah Wid,tiga tas Louis vuitton gue aja gak semahal gitu”

“ Michael bulan depan ke amrik,gue ada suruh dia nyari sandai Christian Louboutin yang lagi gue naksir berat nih,kemarin di singapura,nyari setengah mati di Orchard gak ada, gak mau kalah ama you juga ah,Wid…hahaha. ” sambung Lina.

Blackberry onyx warna putih Cathy berbunyi,sambil berjalan menjauh sebentar keluar sofa ,Cathy mengangkat teleponnya.

“siapa Cate?” Tanya Widya.

“ laki gue, Alphard barunya barusan di tabrakin ama bajaj di lampu merah katanya ” balas Cathy.

Jakarta, 24 Juni 2010, 14:30WIB

Gang Warakas,Tanjung Priok

Tetes-tetes air sisa hujan masih menetes turun walau hujan telah berhenti beberapa saat,dan sebuah baskom plastik merah diletakkan untuk menampung air hasil tetesan tadi,rumah itu jauh dari layak disebut rumah,lebih tepatnya seperti gubuk,dengan dinding papan ala kadarnya,dan kertas Koran di tempel sana sini,dan tidak beraturan.Atap rumah di tutupi oleh atap seng,yang bila memandang keatas,rasanya akan seperti memandang bintang-bintang bila dimalam hari,berupa lubang seng yang bocor di sana-sini. Seorang gadis kecil sedang menuliskan pekerjaan sekolah yang diberikan oleh gurunya tadi pagi,hanya beralaskan sebuah meja kecil dengan papan yang dipaku sana sini,seperti

Sebuah meja yang terbentuk dari sisa-sisa bahan.

“bu,tadi siang Bu Guru minta wati sampaikan kepada ibu,kapan ada duit buat bayarin SPP sekolah?”

Wanita itu hanya diam tanpa mengatakan apa-apa,sementara gadis itu kembali menulis pelajaran sekolahnya,rambutnya terlihat kusut seperti dengan wajahnya,bajunya basah bukan karena air hujan,karena keringatan setelah setiap hari harus menerima pesanan mencuci baju di dua keluarga yang berbeda tidak jauh dari gubuknya tempat dia tinggal.

Setelah terdiam lama,”tolong katakan kepada Bu Guru,akhir bulan ini ibu akan lunasin.”

Sebenarnya selain harus berusaha melunasi keperluan biaya sekolah anak satu-satunya,dia harus berusaha melunasi hutang di warung depan,pemilik warung itu telah menagih terus dan mengancam tidak akan kasih barangnya lagi,bila tunggakan sebelumnya tidak dilunasi,sementara walaupun telah berusaha menambah upah cuci yang sebelumnya dia hanya bekerja cuci untuk satu majikan,itu sebelum suaminya meninggal karena penyakit TBC yang dideritanya bertahun-tahun.Setelah mendapat upah cuci dua keluarga pun,tetap saja tidaklah cukup untuk menutup semuanya tanpa harus berhutang,beruntung dia termasuk salah satu yang dapat bantuan langsung tunai dari pemerintah,itupun sudah lama berhenti.

Jakarta,24 Juni 2010, 14:30WIB

Perempatan Grogol,Jakarta Barat

Matahari siang yang panasnya terasa mengigit di siang itu,seorang lelaki tua,dengan rambutnya yang telah di penuhi oleh uban yang memutih,dan di sekeliling wajahnya juga dipenuhi oleh kumis dan berewokan yang juga telah memutih,tampak sedang duduk di samping trotoal jalan,dengan wajah terkantuk-kantuk,tidak tahu sudah berapa lama dia tidak beristirahat.Di badannya,sebuah kotak penuh hasil dagangan berupa air minum,rokok dan kotak tissue,dengan tali yang digantungkan ke bahu.Baju yang dikenakan tercium bau amis yang bisa membuat orang-orang akan menutupi hidungnya bila mendekat dengan jarak kurang dari satu meter.Mobil-mobil berhenti silih berganti di perempatan itu,saat rekan-rekan seprofesinya menawarkan dagangan mereka dengan berjalan di samping mobil-mobil yang berhenti sambil berucap,”haus mas?aqua,aqua”.Ada yang menawarkan rokok,”rokok mas?”.Lelaki tua itu tetap tidak mempedulikan dan tidak berusaha untuk merebut mendapatkan hasil jualan dengan yang lainnya,sesekali kepalanya menyundul kena pagar pembatas trotoar dan membangunkan dia sekejap,matanya memandang ke depan,kemudian menoleh ke kiri jalan,arah datangnya bus-bus penumpang.

“pak,pak bagi dua botol aquanya dulu,ada yang mau beli,kebetulan saya punya habis”serekan profesinya memanggil dan menghampiri dia,dan dia tetap tidak beranjak dari trotoar itu,hanya membiarkan temannya mengambil sendiri botol aquanya.

Jakarta,5 Juli 2010, 08:15 WIB

Perempatan Grogol,Jakarta

Panas terik terasa mencekik pagi itu,bagi pejalan kaki,bagi penjual asongan,bagi pengendara-pengendara motor,sopir bajaj dan penumpang,bus-bus metromini,si sopir satu tangannya memegang setir dan tangan satunya mengipas-ngipas badannya pakai kertas Koran.Manusia-manusia berlalu lalang tanpa henti,kebanyakan dengan kostum pakaian kerja,melangkahkan kaki dengan buru-buru.Di halte,orang-orang tampak berdiri berjejer menunggu bus-bus yang datang mengantarkan mereka ke tempat tujuan,tidak jauh dari situ,sebuah Alphard putih metalik model terbaru juga berhenti.

“Pak Sisno,tolong beli Koran Kompas satu ya”.Andi menyuruh sopirnya yang baru dipekerjakannya setelah sopir yang lama di pecat gara-gara sebuah keteledoran kecil,membuat Alphard barunya penyok,karena di tabrak oleh bajaj beberapa hari lalu.Sambil membaca headline berita Kompas,Andi sedikit tertuju pada sebuah tajuk cerita yang tertera di kolom bawah dengan judul Ironis Sebuah Kehidupan Metropolitan Jakarta.Sebuah cerita disodorkan di baris pertama,Andi tampak membaca dengan menyimak cerita itu sambil mengecek email yang masuk terus menerus dari blackberrynya.”hari ini tidak lagi mendengar suara indah Wati yang selalu menyapa ibunya dengan sapaan selamat pagi,tidak lagi dengar suara Wati yang selalu menyapa Ibu Titik,pemilik warung depan rumahnya yang kumuh,tidak lagi mendengar Wati yang jago bernyanyi di depan kelas,karena Wati yang lucu,yang pintar secara akademik,kemarin telah berpulang ke pangkuan Tuhan.Wati meninggal karena demam berdarah yang sudah seminggu dideritanya dan ibunya baru membawanya ke rumah sakit terdekat,namun semuanya sudah terlambat,pembuluh darahnya pecah,dan Wati terlambat untuk bisa di tolong,setelah ditanya kenapa Wati di biarkan berhari-hari,dengan berlinang air mata ibunya mengatakan bahwa dia tidak cukup biaya untuk membawa Wati berobat ke rumah sakit,dan setelah berhari-hari baru berhasil mendapatkan pinjaman dari majikannya,tempat dimana dia menerima upah cuci disitu”.

“pi,kenapa tuh orang-orang pada berlari sih”Tanya cathy suaminya,Andi.

“ Pak Sisno,coba kamu tanya si tukang koran itu,kenapa itu orang pada berlari-lari”,suruh Andi kepada sopirnya.Tukang koran itu menjawab dengan berbicara dalam bahasa jawa kepada sopirnya Andi.

“kata si tukang koran,bus itu tabrak tewas seorang bapak tua pedagang asongan yang biasa berjualan di perempatan ini.”jelas Pak Sisno kepada sang majikan,disaat yang bersamaan,sebuah pesan masuk ke Blackberrynya Cathy yang segera dibukanya.Sebuah pesan yang di kirim oleh sahabatnya,Widya dan pesannya “Cate..laki gue dah pulang tadi malam bersama dengan sandal Jimmy Choo special edition gue”.

Lintasberita from Kompas