Sepertiga penduduk dunia terinfeksi basil Tuberkulosis

Sepertiga penduduk dunia terinfeksi basil Tuberkulosis (TB) yang mana satu orang sakit TB setiap empat detik serta terdapat satu orang meninggal karena TB setiap 10 detiknya.

Menurut Staf sub bagian Pulmonologi penyakit dalam RSUP dr. Sardjito, dr. Bambang Sigit Riyanto, Sp. PD-KP dalam Seminar Nasional Continuing Medical Education XXXI, Asri Medical Center (AMC), Sabtu (11/6), hampir dua juta penduduk meninggal akibat TB pada tahun 2000 dan lebih delapan juta penduduk menjadi sakit TB tiap tahunnya.

“Selain itu, sepertiga penduduk dunia terinfeksi basil TB dimana penyakit ini membunuh lebih banyak remaja dan dewasa dibanding penyakit infeksi lainnya,” jelas Bambang.  Hal ini masih ditambah dengan jumlah satu orang sakit TB setiap empat detik serta terdapat satu orang meninggal karena TB setiap 10 detiknya.

Dalam penuturannya TB pada manusia disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis atau Mycobacterium bovis. “Dengan gejala konstitusi dan pulmonal yang meliputi batuk, demam, penurunan berat badan, juga tanda-tanda seperti keringat malam, nyeri dada pleuritik serta nafas pendek.”jelasnya.

Bambang menambahkan, TB merupakan penyakit menular, namun hanya TB paru saja yang infeksius. “Bila tidak segera diobati, seorang dengan TB aktif dapat menginfeksi 10-15 orang setiap tahunnya dimana TB biasanya mengancam keselamatan jiwa secara gradual merusak paru,” terang Bambang.

Namun, di Indonesia sendiri, upaya yang dilakukan untuk mengobati TB memberikan hasil positif dimana pada data tahun 2008, Indonesia menempati peringkat kelima atas jumlah total kejadian TB dengan jumlah kasus 429.000. “Jumlah ini menurun dibanding dengan data tahun 2007 ketika Indonesia menempati urutan ketiga dengan jumlah total kasus TB mencapai 528.000.”ujarnya.

Lebih lanjut, Bambang menuturkan jika di daerah dengan prevalensi Human Immunodeviciency Virus (HIV) tinggi pada populasi umum dan daerah dengan kemungkinan TB dan infeksi HIV muncul bersamaan, konseling dan uji HIV diindikasikan bagi semua pasien TB sebagai bagian penatalaksanaan rutin. Sementara itu, pada pasien yang diduga HIV, evaluasi diagnosis harus disegerakan.

Pada kesempatan yang sama Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga ahli HIV/AIDS, Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM memaparkan terkait Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang menggunakan obat anti retroviral (ARV) mampu mengurangi angka kematian 75%. “Serta mampu menekan angka kejadian TBC pada ODHA sebesar 50%,”tuturnya. Selain itu, pemberian ARV pada ODHA akan mengurangi penularan ke pasangan heteroseksualnya sebanyak 92% atau 12 kali lipat reduksi penularan.

Ia mengatakan jika saat ini perlu ada paradigma pengobatan dan pencegahan HIV/AIDS dimana sebelumnya untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS dilakukan dengan mengubah gaya hidup buruk yang bisa memicu penyakit HIV/AIDS, termasuk dengan pendekatan struktural dengan mengurangi kemiskinan dan kebodohan.

Kemiskinan perlu dikurangi karena HIV/AIDS dapat terjadi karena adanya kemiskinan serta tingkat pendidikan rendah yang menjadikan pengetahuan mengenai HIV/AIDS tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh masyarakat. Oleh karenanya, pengobatan dan pencegahan HIV/AIDS saat ini dapat dilakukan dengan Biomedik melalui penggunaan ARV sehingga akan menghambat laju penularan HIV/ AIDS.

Zubairi yang juga pernah menjabat Ketua Tim pemeriksa kesehatan calon Presiden dan Wapres RI menambahkan bahwa sirkumsisi atau sunat juga terbukti efektif mencegah penularan HIV. “Selain itu juga pentingnya memperluas dan meningkatkan jumlah tes HIV dan selanjutnya diteruskan dengan pengobatan ARV. Karena menunda pengobatan hanya akan memperburuk kondisi ODHA,”tegasnya.

Sumber : umy.ac.id