Teroris Bodoh itu Mati Sia-sia

“SEORANG teroris dengan paket bom bunuh diri di tubuhnya masuk masjid dan menyusup ke saf dua jemaah salat Jumat! Begitu imam takbiratulihram—mengangkat kedua tangan dan mengucap Allahu Akbar untuk memulai salat—bom di tubuh teroris meledak!” ujar Umar.

“Entah siapa yang memicu ledakan bom di tubuh teroris itu, dia sendiri yang tewas menyia-nyiakan jiwanya dalam misi itu, atau monsternya dari tempat lain!”

“Demikianlah tragedi di Masjid Mapolresta Cirebon ketika seorang teroris yang jelas bodoh sehingga mau saja disuruh bunuh diri dalam masjid di tengah jemaah salat Jumat, yang pasti cuma menyia-nyiakan jiwa atau nyawanya karena tak ada ajaran yang menyuruh untuk itu, baik dalam Alquran maupun sunah Rasul. Apalagi menjanjikan ganjaran surga!” timpal Amir.

“Sebaliknya, apa pun niat yang dipasang dalam hatinya, tindakan menyerang dengan bom yang mematikan itu jemaah salat Jumat dalam masjid jelas merupakan perbuatan terkutuk, tak dibenarkan oleh ajaran segala jenis ulama yang benar!”
“Tak ada pilihan lain kecuali mengutuk teroris bodoh itu!” tegas Umar. “Meski secara manusiawi kita layak mengasihani kebodohannya sehingga tak menolak saat diperintah monsternya untuk melakukan tugas terkutuk yang menyia-nyiakan jiwanya itu! Layak dikasihani, karena bisa saja ia menjadi bodoh begitu akibat dihipnosis atau dicuci otak oleh monster perekrut yang memanfaatkan dirinya hanya sebagai alat peluncur bom!”

“Karena itu, khusus kepada para remaja yang sok pintar dalam ilmu agama hingga sok ngeyel mau benar sendiri dalam diskusi, agar berhati-hati jika berjumpa orang yang tampak lebih berilmu tapi memuji kepintaran si remaja guna direkrutnya menjadi peluncur bom!” timpal Amir. “Remaja sok pintar atau bermasalah jenis lain, lebih mudah dibuat terpancing monster perekrut teroris lewat berbagai cara, di antaranya dengan pemaksaan seperti model cuci otak!”

“Artinya, para orang tua di kampung, terutama dari kelompok pengajian, agar mencermati para remaja di lingkungannya guna menghindarkan mereka dari jangkauan perekrut yang akhirnya mencelakakan remaja dan dengan sendirinya, keluarganya!” tegas Umar.

“Sementara polisi belum tuntas meringkus jaringan monster teroris itu, masyarakat memagari warganya dari teroris pencari ‘pengantin’ untuk menyandang bom bunuh diri! Jika masyarakat bisa memagari warganya dengan ketat, tak mudah juga teroris mencari orang bodoh yang mau menyia-nyiakan jiwanya lewat perbuatan konyol!” ***

Lintasberita dari : H. Bambang Eka Wijaya