Anik Bantah Jadi Pelaku Video Porno Bantul

Seorang remaja putri berpakaian putih menangis di samping Kapolres Bantul, AKBP Dra Sri Suari Msi, di ruang pertemuan Mapolres Bantul, DIY, Rabu (11/5/2011) siang. Ia  beberapa kali ia mengambil tisu, kemudian mengusapkan ke pinggir matanya.

Gadis yang mengaku bernama Anik (18) itu menggelar jumpa pers setelah merasa terpojok karena dituduh sebagai pelaku sebuah rekaman video porno yang beredar di sebagian wilayah Bantul. Ia didampingi Pranowo dari Lembaga perlindungan Anak. “Saya ingin menegaskan, bukan saya pelaku video porno yang beredar di Bantul,” bantahnya.

Beberapa media cetak belum lama ini menulis, pelaku video mesum berdurasi 10 menit yang beredar luas, antara lain di ponsel, adalah  A, siswi kelas 3 SMA 1 Sanden, Bantul. Dalam berita itu juga disebutkan bahwa pemeran adegan cabul diduga diungsikan keluarganya ke luar kota agar tak ditangkap polisi.

Semula Anik tidak mengetahui  berita tentang video porno tersebut. Ia mulai mengetahuinya, sekitar tiga pekan lalu, saat seorang teman bertanya apakah Anik pelaku dalam sebuah video porno. Karena memang tidak tahu, kala itu Anik pun balik bertanya, “Video apa?”

Sang teman kemudian mengajak Anik menonton video dimaksud. Seketika ia syok dan kaget, lantaran ‘artis’ dalam tayangan porno itu memang mirip Anik.  “Saya langsung nangis pas lihat video tersebut,” kenangnya.

Sejak saat itulah Anik menjadi paham mengapa banyak orang memandang dengan pandangan yang ‘aneh’ dan membuatnya perasaannya tidak enak. Beberapa tetangga dan  teman-temannya pun menjauh. Selan itu, ia sering merasa ditunjuk-tunjuk sebagai pelaku video cabul.

“Malah ada yang ngirim SMS dan pesan di Facebook, katanya, ‘Ngaku aja deh lo’. Ngaku apa? Saya kan tidak berbuat apa-apa. Hal itu membuat saya semakin terpojok,” ujar Anik, yang juga membantah kabar ia diungsikan keluarga gara-gara main dalam video porno.

Merasa kian terpojok dan tak tahan lagi, maka dengan dukungan keluarga ia pun melapor ke kepolisian demi menglarifikasi kabar tak benar tersebut. Anik  ingin membuktikan bahwa ia tak bersalah sekaligus menghapus semua tuduhan buruk atas dirinya. “Ayah saya bilang, kalau tidak salah kenapa harus takut,” tegasnya.

Kapolres Bantul, AKBP Sri Suari, menuturkan, setelah menerima laporan Anik, pihaknya memeriksa 14 titik di badan Anik, membandingkan ciri-ciri fisiknya dengan ciri-ciri pelaku video mesum. Hasil pemeriksaan  membuktikan Anik bukan pelaku video mesum tersebut.

“Secara kasat mata terlihat badan pelaku jauh lebih bongsor daripada korban (Anik, Red). Paling mudah dilihat adalah di alis. Alis korban saling mendekat, sedang alis pelaku menjauh. Bentuk wajah pelaku juga lebih oval,” kata Sri Suari, sambil menunjuk alis Anik.

Polisi berjanji terus melacak pelaku sebenarnya video cabul tersebut, dan mencari pengunggah pertama video itu. “Jika benar dia  warga Sanden, maka kami akan menyelidiki lebih jauh. Saksi yang kami panggil  hingga saat ini masih mengatakan  ‘kayaknya’ dan ‘katanya’, ” ujar Kasatreskrim Polres Bantul, AKP Wachyu Tribudi.

Lintasberita from Tribun